Tampilkan posting dengan label Puisi. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Puisi. Tampilkan semua posting

Sabtu, 10 Maret 2012

Deskripsi Cinta


Deskripsi Cinta

berhari-hari kita lalui...
detik demi detikpun kita jamahi...
dengan penuh rasa kasih sayang dan cinta...



gelombang radio menjadi jembatan...
atas hubungan yg mungkin kelak akan abadi...
apalah arti hubungan
jika ketulusan dan kejujuran tak terjadi,,,

Cemburu itu cinta... cinta itu butuh cemburu...
yakinkah dirimu tak terbakar api cemburu saat melihat dia dgn org lain...


terkadang ego membutakan arti cinta yang sesungguhnya...
anggunnya hati saat mengenal kebersamaan
ksatrianya hati saat mengenal pengertian...

dirimu,diriku berbeda... tapi ada satu titik idealisme.... yg menyatukan perbedaan,,

"CINTA"

Terbilah Jarak


Terbilah Jarak

sepintas merenungi, canda tawa dengan hati
berhenti sejenak, perbincanganpun beranjak
berawal dari keraguan,namun berusaha meyakinkan
jarak terbentang luas, namun tak dapat menggoyahkan pondasi hati

aku disini kau disana walau jauh kita dapat melihat benda yang sama
bulan, kaulah perantara kami
biarkanlah kami dibenam oleh sinarmu
karena dengan begitu ku dapat merasakan dirinya dekat

bintang, bantulah kami
karena dengan kemerlapmu menjadi benang merah yang menyatukan kami
i’m stay to wish and hope it 
-=Mahardika=-             

Tersentak Aku Seketika


Tersentak Aku Seketika

Sendiri di tengah gemuruh petir
badan terasa lelah jiwapun terasa ketir

jalan menapak di lorong semu
tak berujung membuatku jemu

duduk termangu di pesisir gelap
belah ombak menerpa karang yang dapat ku tatap


tapi kau hadir dengan cerah awan
tapi kau datang beri jalan keluar
tapi kau temani dengan cahaya pelita

ku bingung apa arti kehadiranmu
ku tak mengerti apa arti datangmu
ku tak paham mengapa kau temani

tapi rembulan senantiasa kasih cahaya
tapi bungapun ikut bahagia

apakah ini cinta atau selir arus fatamorgana??? 


Puisi [2]


Puisi [2]

 Hi sobat Blogger, Tadi saya habis berkunjung ke Blog-Blog penulis dan ada satu Cerpen - Puisi yang membuat saya terkagum-kagum. hemm.. kalian patut membacanya, seru loh :)

Sebelumnya saya sertakan Credit dulunya untuk menghormati sang Publish dan si penulis :)
Cerdit to Blog.gagasmedia.net
Penulis Ambar Sriwulan M


Pagi selalu sejuk, mendamaikan jiwa,
Siang selalu cerah, sinarmu yang menemaniku,
Bukan panas yang menerpa, tapi cinta yang kurasa,
Malam kini kian menjelang, bukan ketakutan menghantui, tapi tentram yang kurasa,
Seperti adanya dirimu disisiku,
Saat ku bersedih, bukan sesak, tapi, senyum yang ada,
Saat ku gundah, bukan risau, tapi, damai dalam jiwa,
Saat aku menghadapi suatu kegagalan, bukan keputusan asaan, tapi semangat yang muncul,
Saat aku bersiap menghadapi semua kenyataan yang selama ini aku pendam, bukan galau,
Tapi kenyakinan yang mendalam untuk terus maju dalam kejujuran yang selama ini aku sembunyikan,
Ganesh...

Buat anak-anak satu sekolahan, gue cuma mau jujur aja sama elo semua. Kalo selama ini, gue udah jadian sama TERA (Terani Mahesa), atau sering elo pada kenal dengan sang ketua mading. Terus yang puisi kemarin, itu puisi gue dan itu di tujukan untuk TERA. Dan gue harap, elo semua nggak ngebuat-buat gosip nggak bener lagi.

Itulah yang terpasang di mading utama dekat ruang guru. Anak-anak yang ngebacanya, langsung pada kaget banget. Dan langsung pada nggak percaya.
“TERA?!” panggil seorang cewek yang terburu-buru menghampiri. Rachel.
“Elo jadian sama Ganesh?”
“HAH?!” ucap Tera nggak percaya. “Maksud elo?”
“Elo lihat aja di mading!” ucap Rachel sambil menunjuk ke arah mading utama. Tera pun langsung lari melihat ke arah yang di tuju. Dia mulai membaca apa yang terpasang di mading utama.
Apa bener, ini perbuatan Ganesh?  tanya Tera dalam hati.
Dia lagi waras nggak sih?  tambahnya lagi.
“Jadi bener?” tanya Rachel mendesak.
Tak menjawab, Tera langsung ke kelas Ganesh.
“Ganesh?!” ucapnya yang mengagetkan anak-anak yang berada di kelasnya Ganesh.
“Ganeshnya belum ke kelas,” ucap salah satu diantara mereka. “Kenapa? Elo kangen ya?”
“CIE...” ucap anak satu kelas. Tera pun langsung kabur ke tempat Ganesh biasa berada, gedung belakang sekolah.
“Ganesh,” panggil Tera.
Tapi, Ganesh nggak ada. Cuma ada sepucuk surat yang tertempel di dinding yang udah lusuh. Terlihat, ada nama Tera di situ. Tera pun langsung membuka dan membacanya.

Dear Tera,
Mungkin, elo nganggap gue udah gila dengan memaparkan semua rahasia. Tapi, gue nggak mau, kalo ini di sembunyiin terus. Gue mau kejujuran yang ada dalam hidup gue. Gue udah cape main sembunyi-sembunyian terus sama orang lain. Dan satu hal lagi, gue nggak peduli, orang-orang bilang apa tentang kita. Memang kita berbeda, dan perbedaan itu yang ngebuat gue takut selama ini, tapi, gue yakin, kalo gue jujur sama kehidupan gue, gue bakal ngerasa nyaman.
Sekarang, terserah elo mau nerbitin puisi gue atau nggak. Yang pasti, gue bakal tetep nulis puisi buat elo. Dan cuma elo yang bisa ngebuat hidup gue kayak gini.
Thanx..
Ganesh...
Baca Tera dalam hati. Matanya mencari seseorang yang dia yakin, pasti orangnya masih berada disitu.
“Gue yakin, elo cuma ngumpet kan?!” ucapnya, rada teriak.
“Keluar, Nesh!” tambahnya.
Terlihat, sosok Ganesh yang keluar dari tempat persembunyiannya. Tera menghampiri dan langsung memeluknya.
“Elo nggak marah kan?” tanya Ganesh. Tera hanya menggeleng dalam pelukan Ganesh. Terlihat senyuman di bibir Ganesh.
“Jadi bener, elo berdua pacaran?!” ucap seorang cewek yang berada diantara orang-orang yang pada penasaran dengan kejadian yang menimpa satu sekolahan, Rachel.
Tera dan Ganesh langsung melepaskan pelukannya dan melemparkan senyuman ke arah anak-anak yang pada ngumpul. “Ya... pupus deh harapan gue,” ucapnya dengan nada sedih, tapi rada melucu.
“Ya... maaf, Chel?” ucap Tera dengan senyuman.
“Kayaknya, gue mesti cari gebetan baru,” tambah Rachel sambil manyun. Tera sama Ganesh hanya tersenyum.
***

Bel pulang telah berbunyi beberapa menit yang lalu. Keadaan sekolah yang tadinya geger pun udah mereda. Dan kayaknya, semuanya udah kembali normal. Ganesh dan Tera pun udah nggak perlu sembunyi-sembunyian lagi untuk ketemu. Malahan, terlihat Ganesh sedang menunggu Tera di depan kelasnya.
“Tumben cepet?” ucap Ganesh yang keluar pertama dari kelasnya.
“Kan sekarang, nggak perlu sembunyi-sembunyian lagi,” balas Tera.
“Enakan kayak gini ya, jadi nggak perlu pulang ngaret lagi.”
“Itu semua gara-gara puisi,” ucap Tera sambil menuruni anak tangga. Ganesh hanya tersenyum. “O... iya, emang elo sering bikin puisi ya?”
“Nggak ah... kata siapa?” ucap Ganesh bohong.
“Udah nggak usah bohong, elo kan yang nulis sendiri di surat. Kalo elo suka banget bikin puisi,” goda Tera. Ganesh hanya menggelengkan kepalanya. “Jangan bohong deh...”
“Terserah lah, yang penting. Kita kan nggak main sembunyian-sembunyian lagi kan?!” ucapnya sambil tersenyum. Tera pun hanya membalas senyumannya.Memang, lebih bahagia kalo kita jujur dengan hidup kita, ucap Ganesh dalam hati.

- Cerpen Puisi Selesai -

Dou You want marry me ?


Dou You want marry me ?

Sediakah Engkau ?
Dampingiku dikala aku susah
Temaniku dikala aku ceria
Menjadi tetesan air mataku
Menjadi suara dari tawa-tawaku


Siapkah engkau ?
Menjadi orang pertama yang kulihat saat aku terbangun
Menjadi orang terakhir yang kulihat saat aku menutup mata
Menjadi ibu dari anak-anakku ?
Menjadi bagian tulang rusukku yang hilang ?

Saat sunyi menjamah ragaku
Akankah kau basuh kehangatan dengan senyumanmu ?
Sanggupkah engkau ?
Menjaga cincin yang melingkari jemarimu

Ya Allah, Labuhkanlah hati ini padanya
Kepada orang yang labuhkan cintanya padaMu
Semikanlah hati ini, agar tidak ada lagi dedaunan bahagia yang berguguran.

Pada alam ini ku temukan kehidupan
Dan pada dirimu ku temukan kebahagiaan

Dou You want marry me ?


Mahardika

Pelabuhan Terakhir


Pelabuhan Terakhir

Lagi, kutemukan cinta diduniaku, sebuah penemuan kecil namun berdampak besar dan bernama Internet. Cukup lama aku tenggelam didunia ini semenjak ku SMP kelas 3 aku sudah mengenal dunia ini, dicandu imaginasi peperangan dalam dunia lain akupun bersemanyam dalam pertempuran game online. Tak cukup disitu aku merasakan kepuasan aku ingin mengenal lebih dekat dan lebih dalam, mengapa aku dan yang lainnya bisa bertemu dalam satu ruangan ? mengapa aku bisa bergabung dengan orang-orang luar negeri ? apa yang menyatukan kita ? sebuah gelombang ? sedashyat itukah dampak yang diberikan ? sungguh luar biasa ciptaan-Nya.

SMA kelas 2, makin dekat aku dengan dunia ini. Kini aku mulai berteman erat dengan mbah-mbah atau raksasa internet seperti Google, Yahoo, Bing, Ask dan banyak lagi mesin pencari yang menjadi perambanku untuk makin mengerti apa sih dunia ini ? yang tidak ku temukan pada dunia nyata, dimana untuk mendapatkan pengetahuan itu sangat sulit, karena semakin gencarnya persaingan antar satu dan yang lain makin sulit juga aku mencari-cari tahu. Apa ini, apa itu… namun tidak pada dunia maya, disini banyak bahkan sangat banyak orang yang membagikan pengetahuannya secara Cuma-Cuma. Selama kita berusaha untuk mencari aku yakin tidaklah sulit.

Malang memang nasibku disekolahku jangankan internet, lab computer aja tidak ada tapi pembayaran iuran computer harus lancar (cape deh). Namun itu bukanlah halangan untukku mendalami dunia ini, aku sangat menyukainya, setiap akhir pekan aku kumpulkan uang saku ku hingga sampai 25ribu gunanya bukan untuk mengencani cewek-cewek, mana cukup uang segitu hahahaha… bukan-bukan, aku kumpulkan gunanya untuk bayar paket malam 15ribu dari jam 9 malam hingga jam 8 pagi, lalu sisanya nasi goreng dan minuman 1 liter aqua. Dan kupergunakan waktuku itu untuk mendownload e-book dan membaca file-file berekstensi PDF, yang isinya ? tentunya bukan jampe-jampe atau pelet ke cewek-ceweknya hihihihi…

isinya tentang topologi-topologi jaringan, yang sampai saat inipun masih aku kembangkan dan masih ku pelajari, bukan itu saja kok. Networking memang idolaku, namun terlalu rumit bahkan aku sampai minum bodrex kalau baca lebih dari 2 e-book hahahaha… gimana enggak ? pengertiannya sih sederhana. Dari A sambung ke B dan si B menjadi titik tumpu akan si C dan si D dan yang lain-lain. Sederhana jika sekilas, namun jika melihat evaluasinya … aargh… ! pusing eui.

Mimpi


Mimpi

Disudut Ruang ku bersandar
terdiam, Rebahkan pilu dilatar
menyendiri dalam sepi
hanya senandung keheningan terisi...

tak ada lagi tawa, yang terukir dirautku
tak ada lagi canda, yang bernaung padaku
langkahku terhenti,
tak mampu tapaki kehidupan tanpa kau disisi
ku harap kau datang untuk mengusik sunyi


Best Regard's

Mahardika  

Senja


Senja

"Senja"


Aku menemuimu lagi selepas hari
 
Untuk mengadu
Sama seperti kemarin

 
Biar aku menghadap ke timur saja
Agar mentari tak bisa

Mengintip semu merah di pipiku
Yang persis seperti lembayungnya

 

Ah, senja

Kisah Kosong


Kisah Kosong

Untukmu….
yang akupun tak pernah jumpa
kurangkai untaian kata ini…
dari lubuk hati terdalam
kunyanyikan lantunan syair indah Qalbu




Untukmu…
yang akupun tidak pernah jumpa…
yang masih merupakan misteri besar dalam hidupku…


Dikau…
yang kelak menjadi pelita dalam hidupku…
dengarlah luapan harapanku…
aku berharap…
engkaulah yang bisa mendampingiku..
dalam menjalani hidup…


aku berharap..
engkau satu-satunya bidadari surgaku…
entah kapan kita bertemu…
tapi aku yakin…
Allah sudah menuliskan skenario pertemuan kita kelak

Semoga…
kita bertemu..



Semoga…
kelak kita bisa membina rangkaian kisah indah…
hingga menuju Surga hakiki…

Imaginasi Mentari


Imaginasi Mentari

Tahukah kau hal yang menyebalkan dari penantian? yaitu ketika kau merasa telah membunuh waktu dengan beribu permainan dan menelan berjuta macam petuah dewa-dewi kayangan namun masih tetap merasa bosan.

Kaulah sang penguasa jeda.Di tanganmu, jarak tersulam menjadi parit antar panel dalam sebuah komik tempat imajinasi dan harapan dilempar dari satu panel lalu ditangkap dan dilemparkan lagi di panel berikutnya bagaikan seorang pemain akrobat dalam sirkus.Menyenangkan pada awalnya, namun ternyata panel berikutnya sangat jauh sedang aku belum siap belajar terbang dan tak ada jaring yang bisa menangkapku di bawah sana.


Di jarak antara ruang tunggu dan entah apa namanya, wajahmu tereduksi jadi bentuk yang sangat mudah dikenali hanya dua titik mata dan segaris mulut.Lalu seiring dengan rasa nyeri, wajahmu terproyeksi di dinding, di cermin, di pintu lemari tak teralihkan, bahkan oleh anggunnya rintik hujan bulan Juni.

dan aku terjaga karena ku takut memimpikannya

sampai kusadari bahwa rasa yang kusebut dengan "rindu" hanyalah efek dari kafein dan gula dalam segelas soda.

Salahkah?


Salahkah ?

wow pagi ini sejuta imaginasi berselubung dalam hati... jadi, izinkan aku untuk uraikan.

beribu rasa ini kian tak bisa bertanding,
kukuh dinding jadi batasan kita tuk bersanding,
aku hanya jadi pungguk yang harapkan rasa panggulan,
semua impian dan harapanku tak akan menjadi kenyataan,
kau terwujud sebagai langit sedangku merendah dibumi,

jadi percuma bila kubiarkan rasa ini tumbuh bersemi,
tak sedikit beda yg ada di antara kita
yg cemaskan aku tuk ungkapkan rasa cinta
aku bukan pangeran yg akan menjemputmu dengan kereta kencana
tak pula patriot panglima dengan berjuta rencana



ku memang tak sempurna
namun ku masih punya harapan
angan tulus untuk bisa bahagiakanmu di hari depan
ku begitu sadar dengan gejolak ini yang sia-sia

jadi kuserahkan pada hatiku untuk menyimpan semua rahasia
ya memang mungkin kau tak menghirau bahkan tak tahu
namun dengan palingkan mukamu dan senyuman menepis galau

kucoba menarik perhatianmu dari segala cara
ku teriakan namamu walaupun harus melawan arah
kutahu ini parah dan tak sempurna,
aku hanya ingin kau tahu aku ada

inginku agar kau segera rasakan
setiap pacuan detak jantungku adalah hadirmu yang kuharapkan
meskipun sesak dalam do'a  ku mohon agar masih sanggup
bersamaan dengan lisanku yang terus terkatup

entah sampai kapan rasa ini akan aku simpan
dan bertahan dengan sembunyikan berjuta harapan
semoga kelak kau rasakan maksudku yg terpendam
bara yang begitu tulus hingga kini tak kunjung padam

please somebody tell to me what i must to do,
i lost my way to getting close with you,
people told to me for let "it" go,
but my heart still to kept it don't Let it go,
allow a one this chance,
and it just one chance,
to groove how much i want you to take my hand's.

jujur disetiap perkataanku dibawah kaki langitku bersaksi
menjaga rasa ini untuk kau selalu sadari 
tak ada lagi yang lain lagi untukku ingkar berada disisi

Alam Rindu


Salam Rindu


Terkaget aku
Ternyata punya rindu


Sudah terbungkus rapi di neuron otakku
Ada seribu


Kuberi kamu satu

Untuk teman perjalanan bisu


Lintasi benua-samudera-waktu

Jangan dibuang kalau tak mau


Aku malu

Kadoo Untuk Ayah


Kado untuk Ayah

Hi Sobat Blogger :)
pada bulan Suci ini, ayahku ulang tahun... Nah, sebagai kado Fiktif, aku ingin berikan ini ke ayahku...

Yah, jika dapat ayah dengari Bunyi dari secari kertas yang aku buat :)


sekedar puisi ulung yang dapat kuberi,
karena ku sadar,
bahwa aku belum dapat memberikan yang ayah inginkan dariku.
untaian kata-kata yang terurai bermodal imaginasi dari hati.

sudah lebih dari setengah abad kau hidup.
kini kau membina nafas keluarga.
momongan seorang anak telah kau dapat.
tak hanya 1 atau 2 tapi 5 anak yang kau pimpin.
bahagia,karena sekarang bukan hanya seorang anak.
tapi kini kau dapat menimang seorang cucuk.
mungkin kelak akan kau dengar seruan kata "hi kek"
emosional sempurna kau dapati.

perjalananmu sungguh berarti bagi kami.
kau basuh tubuh dengan keringat disekujur tubuh.
penuh haru dan pilu lihat kau berjuang.
bukan hanya sandang dan pangan.
namun jua berusaha untuk cukupi pendidikan merata kepada seluruh anak.

beban yang kau pikul
tak terlihat dimataku.
disaat kau lapar,kau katakan dengan lugas.
makanlah nak aku tidak lapar.

air mata terurai haru perjuanganmu.
tak henti walau pahit.
tak henti walau sedih.

kau tetap pertahankan simbolis seorang pemimpin.
makasih ayah untuk semua yang telah kau beri.

akankah ?


akankah ?

Jika Aku Menjadi Sherlock Holmes,
akankah kudapati Irene Adler ?

Jika Aku Menjadi Romeo
akankah kudapati Juliete ?


Namun aku hanyalah aku, semua kenangan pedih dan indah membuatku terpacu,
menyadari inilah kehidupan, membuatku tersentak inilah Realitas.

Sunday, Monday untill saturday, aku menunggu akan kegigihanku mencintai dengan ketulusan,
ku harap dan beroptimis Akan mendapatinya,




Sesosok Istimewa yang akan hadir,
atau mungkin telah hadir dihatiku tanpa kusadari,



aku hanya ingin mencinta dan dicintai,
tak lebih dan tak kurang...

Bagiku itu cukup untuk mengusir segala rasa sepi.
Bagiku itu cukup untuk memotivasi hidup untuk lebih baik.
Bagiku itu cukup untuk merasakan keindahaan Cinta.


bersemi dalam keharmonisan
bernaung dalam kesederhanaan


Anggunnya hati saat mengenal dan menerima perbedaan.
kesatrianya hati saat memaafkan dan memperbaiki kesalahan.


Sobatku : apa yang kau lakukan
aku         : menulis.
Sobatku : apa itu ?
aku        : hanya puisi
Sobatku : kamu sedang galau
aku        : hanya sedang merintiskan Curahan hati pada secarik kertas dan media lainnya
Sobatku : namun Sudah tercurah semua ? dan itu membuatmu lega ?
aku        : belum
Sobatku : bukanlah alasan bagimu untuk meminum-minuman dan tidak memakan obatmu kan ?
aku        : maksudmu ?
Sobatku : sudahlah jangan mengelak, dari Bajumu tercium minuman menyengat, dan ditambah letak kunci laci obat yang masih persis berada diatas lemari, dan ku lihat kunci itu tak pernah kau sentuh. jadi kau tidak meminum obatkan ?
aku       : ia hari ini dan hari sebelum-sebelumnya hanya hal membosankan.
sobatku : aku mengenalimu, bagaimana mungkin kau bisa bosan ? bukan hari ini dan seterusnya kau menjadi pemimpin ?
aku       : aku lelah.
sobatku : sudah-sudah sekarang minumlah obat, dan izinkan aku untuk membuang minuman itu.
aku        : ya sudahlah.
sobatku  : aku kagum padamu, hanya segelintir manusia dalam kehidupan ini yang mampu berpikir, pada usiamu kau sangat mempesona, dalam hati,tingkah laku bahkan pikiran. janganlah takut menghadapi kehidupan.
aku        : namun semuanya terasa membosankan saat semua menghilang.
sobatku  : bukankah kau orang pertama kali yang menyadarkanku akan cinta dan makna kehidupan ?
oke kali ini aku sangat benci padamu, cepat berdiri dan berlarilah menuju mimpimu, dan gapai itu !!!
aku        : Sobat, aku ingin bertanya,
sobatku  : silahkan
aku        : akankah ada seseorang yang akan mencintaiku, bukan hanya kelebihan yang ada namun kekuranganku juga.
sobatku  : pasti, pasti ada... ingat, Irene adler, ataupun Juliete menantimu
aku        : baiklah aku beranjak dari mimpi buruk ini dan menjemput Irene adler/ Julieteku.
sobatku  : kau memang seorang pemimpin
aku        : dan kau memang seorang Sahabat yang paling baik !!!!

Puisi : Gugurnya Sang Penari


Puisi : Gugurnya Sang Penari


Sekeping bulan 

Bertengger di balik ranting kering

Memancarkan cahaya menyapu dedaunan

Sisa-sisa air hujan seperti kristal

Bergelantungan di ujung-ujung daun tak bertulang



Penari memasuki taman bunga baiduri

Hasil budidaya seseorang yang biasa dipanggil mami

Penari terkurung dalam sarang penuh mucikari

Menari di antara semak-semak belukar

Menyusup di balik keringat kumbang jalang dan binatang liar

Tak ada celah untuknya bersembunyi


Apalagi lubang untuk menyelinap pergi


Tubuhnya terlilit seutas tali

Dari pusar iblis yang menjaga neraka

Tempat para pemuja mencari bejana

Untuk menuangkan saripati dari benih yang tersia-sia


Membelah belantara dan menyisir rawa-rawa

Lalu masuk ke dalam lorong kegelapan

Terjepit di antara batu-batu cadas yang mengeras

Menggelepar lalu melemas


Seonggok jasad mulai rapuh


Bergeming dalam kelam berkabut

Keletihan telah membawanya pada batas waktu

Layu, terkapar di ujung kaki bumi

Tanpa belas kasih dan harga diri


Penari tak sanggup lagi mengepakkan gemulai tangannya

Menantang kumbang-kumbang liar yang siap menghisap madu

Menancapkan duri-duri tajamnya menghujam ulu

Mendengarkan lenguh panjang kepuasan setelah bercumbu


Penari terpental bagai peluru tak terkendali

Penari tercampak bagai nyayian tak bermelodi


Sekeping bulan, perlahan bergerak pergi

Meninggalkan ranting kering dan daun-daun tak bertulang

Terpelanting bersama gugurnya sang penari.



Gimana sobat blogger ? tadinya sih, ingin judul post ini yaitu Raungan hati. cuma Imaginasiku lebih jelas menggambarkan sang penari yang terjatuh. 

oke, Selamat menikmati Sajak Pilu ini See You Next Time :)

Puisi : Aku - Chairul Anwar-


Puisi : Aku - Chairul Anwar-

Berikut ini Sajak dari Sang Pujangga Indonesia, Chairul Anwar,

Aku 

Kalau Sampai Waktuku

Ku Mau Tak Seorang Kan Merayu


Tidak Juga Kau




Tak Perlu Sedu Sedan Itu


Aku Ini Binatang Jalang

Dari Kumpulannya Terbuang



Biar Peluru Menembus Kulitku

Aku Tetap Meradang Menerjang


Luka Dan Bisa Kubawa Berlari

Berlari

Hingga Hilang Pedih Perih


Dan Aku Akan Lebih Tidak Perduli


Aku Mau Hidup Seribu Tahun Lagi

Puisi : Setia


Puisi : Setia

KESETIAAN I
Satu langkah maju
Satu masa berlalu
Sebelum musim berganti
Kuingin kau mengerti
Sekali dalam hidupku
Kupikat engkau di bening embun pagi
Hatiku padamu
Seperti matahari menyongsong hari
Begitu seterusnya
Meski gerhana terkadang menghalangi
Namun bumi tak pernah enggan untuk menanti
Detik demi detik menit demi menit
Cintaku tak pernah lekang oleh waktu

 


KESETIAAN II
Pernah bintang berkata pada langit
“Aku tak mungkin berkhianat pada bulan”
Langit terkesima
Kelelawar-kelelawar mengelus dada
Kunang-kunang bertasbih memanjat doa
Wajah bulan penuh menatap bumi
Bertengger pada sepotong awan
Dibisikinya awan tentang kesetiaan
Mayapada benderang
Anak-anak berlari gembira
Bulan dan Bintang bersanding dalam tahta
Mengawal malam menjemput sang fajar

Puisi : Senja Di Pelabuhan Kecil - Chairul Anwar -


Puisi : Senja Di Pelabuhan Kecil - Chairul Anwar -

nah, selain puisi Aku Ciptaan Sang Legendaris Chairul Anwar, puisi ini juga salah satu favoriteku...
kalau sobat blogger yang mencintai sastra, pasti ngebaca Puisi ini merinding bulu kuduknya,

Two Thumbup untuk Sang Pujangga Indonesia kita.

Ini Kali Tidak Ada Yang Mencari Cinta


Di Antara Gudang, Rumah Tua, Pada Cerita


Tiang Serta Temali. Kapal, Perahu Tiada Berlaut


Menghembus Diri Dalam Mempercaya Mau Berpaut





Gerimis Mempercepat Kelam. Ada Juga Kelepak Elang


Menyinggung Muram, Desir Hari Lari Berenang


Menemu Bujuk Pangkal Akanan. Tidak Bergerak


Dan Kini Tanah Dan Air Tidur Hilang Ombak.




Tiada Lagi. Aku Sendiri. Berjalan


Menyisir Semenanjung, Masih Pengap Harap


Sekali Tiba Di Ujung Dan Sekalian Selamat Jalan


Dari Pantai Keempat, Sedu Penghabisan Bisa Terdekap

Teruntuk harapku


Teruntuk harapku


Malam terang bulan, aku ingin pandangi kehidupan yang lebih jelas dalam gulita. apa itu terwujud ?
disaat, denyut jantung mulai mendesak & acapnya perih yang teruntai di sendi makin kontras diberi.

ada harapan & ada doa. ku tulis itu pada secarik kertas. teruntuk alam yang tak menjawab jeritanku.
aku ingin sempurna, namun beribu keterbatasan menghalangi. namun dengan semata, aku hanya ingin berguna,tak perlu muluk harapku untuk dunia, cukup untuk lingkunganku.
aku terisolir pada reruntuhan yang tersisih, tercaci diatas tawa mereka yang 'sempurna', dendam yang terucap lirih, untuk membuat mimpi menjadi nyata. namun lagi, aku terbatas dengan sekelujur batas menguntai.

berikan senyum simetris untuk orang yang bertanya "kamu kenapa ?" "aku baik-baik saja..."
berusaha menutup tabir jerit-jerit hati yang tak terungkap, aku menyadari, takkan lama, Dentuman jarum jam yang ingatkanku untuk terpanggilnya aku.

tapi, aku masih ingin, & masih menikmati Sang pengantar terbit, Bulan & Bintang yang menjadi laksamana atas pasukannya, diranah kegelapan teruntuk terang.
dalam bujur lidah ku harap masih sanggup
dalam nafasku yang makin terkatup,

bukan untukku, tapi merekalah yang aku peruntukan. keluarga, lingkungan, dan dunia.
sempatkan hamba ya Allah.

Dear Indri Anggana Anindita (puisi bisu)


Dear Indri Anggana Anindita (puisi bisu)

"Ohh, ohh
So much for my happy ending
Ohh, ohh
So much for my happy ending
ohh, ohh,ohhhh

Let's talk this over
It's not like we're dead
Was it something I did?
Was it something you said? "
      Diatas ini sepenggal lirik yang terngiang ditelingaku saat ku berkunjung ke blognya. ya kekasihku. tapi entahlah. aku yang bodoh, sempat berkata ingin pergi, dan menjadi salah kaprah dari arti "kepergian" yang membuatnya tertoreh pilu. Bodoh ! pemimpin macam apa aku ? mendiang yang kupahat hancur seraya penyesalanku yang tak  terhenti. aku berharap masih ada nafas, aku bergantung pada keajaiban. ditambah ini adalah bulan dan hari kemenangan. please... give me. give me a chance !

     Indri Anggana Anindita, apa yang harus ku katakan pada senja ? mungkin beliau takkan sudi menenggalamkanku dalam cahayanya yang kemerahan. lalu masihkah ada pasukan malam dengan desis syahdunya ? aku rasa bulan akan bertampik ! bintang akan meredup seraya kekecewaan dengan yang telah aku lakukan. bagaimana dengan mentari ? beliau takkan terbit tanpa pasukan malam. jadi.. jadi apa ?

    Kemarau datang lebih cepat, tanah akan menggersang, dedaunan berguguran ! ulat akan membusuk biru, burung berhenti berkicau. dan Singa akan terkaing perih.

    Tolong, tolong beri mata air ditanah hatiku Ndri. ku mengemis padamu, aku menyesal.

    aku, terduduk disudut utk menunggumu.
    menunggumu datang utk mengusik sunyi.

 

Selamat Datang

Selamat datang di Power Science, saya harap anda senang dan bisa mendapatkan apa yang anda cari di blog ini. dan berharap Anda sering datang kembali. Silahkan anda mencari hal-hal yang baru di blog saya iniSelengkapnya tentang Saya

Sepintas Tentang Saling Sharing

Nama saya Erlangga Yudian Pratama saya seorang yang senang berbagi. tadinya saya adalah pemilik blog Ilmu tetapi tidak tahu apa yang terjadi saya kehilangan account blog tersebut dikarenakan kejahilan seseorang. :D

Social Stuff

Info